UMKM sering disebut sebagai tulang punggung ekonomi, tapi akses pembiayaan yang mudah dan terjangkau masih jadi tantangan nyata di lapangan. Persoalannya bukan cuma soal ketersediaan dana, tapi juga kejelasan kriteria -- siapa yang berhak, dengan skema apa, dan dengan biaya dana seperti apa.

Lembaga seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) punya peran besar lewat program seperti Desa Devisa. Supaya program ini benar-benar berdampak, evaluasinya perlu melihat lebih jauh dari sekadar angka penyaluran dana -- yang lebih penting adalah berapa banyak pelaku usaha yang benar-benar naik kelas, dari mikro ke kecil, dari kecil ke menengah.

Pendampingan berkelanjutan sama pentingnya dengan akses pembiayaan itu sendiri. UMKM yang dibina secara konsisten -- bukan hanya diberi modal sekali jalan -- yang punya peluang lebih besar untuk tumbuh dan bertahan di tengah persaingan pasar.